Ketika Kebaya Sunda dan Batik Tasikmalaya Hidup Kembali Lewat Pasanggiri

Senin 22-09-2025,15:00 WIB
Reporter : Ayu Sabrina
Editor : Rezza Rizaldi

Namun, di balik semangatnya terselip keprihatinan. 

Banyak warga Tasikmalaya lebih memilih kebaya dari Cirebon atau Yogyakarta. 

Padahal, kebaya dan batik khas Tasikmalaya memiliki keunikan tersendiri. 

Warna terang, motif merak ngibing yang dinamis, hingga lereng yang tegas. 

BACA JUGA:Pinjaman Cair Tanpa NPWP, Cek Tabel Angsuran KUR BRI 2025 Plafon Rp 50 Juta

Semua itu merupakan identitas visual yang lahir dari tanah Priangan Timur.

Pasanggiri ini diikuti 33 perempuan dari berbagai latar belakang. 24 orang kategori usia 20–45 tahun dan 9 orang kategori 46–65 tahun. 

Dari mahasiswa hingga ibu rumah tangga, dari generasi muda hingga lansia, semua tampil percaya diri.

Namun berbeda dari ajang fashion show modern yang menonjolkan postur dan gaya berjalan, lomba ini menekankan pakem kebaya Sunda.

BACA JUGA:Membangun Wajah Baru Kota Tasikmalaya, Aksi Bersih-Bersih Sambut World Cleanup Day 2025

“Yang penting adalah bagaimana menggunakan kebaya Sunda dengan benar sesuai aturan. Mau tinggi, pendek, kurus, atau gemuk, itu tidak jadi soal. Ada aturan lambeuh, selendang, hingga harmonisasi warna. Itulah esensinya,” terang Elin.

Menjaga pakem, kata Elin, bukan berarti menolak modernisasi. Justru dengan menghadirkannya di ruang-ruang publik seperti pasanggiri, masyarakat kembali bisa melihat nilai kebaya Sunda yang sesungguhnya.

“Ini bukan hanya melestarikan budaya, tapi juga memberi ruang ekonomi bagi para pengrajin. Kalau tidak ada wadah seperti ini, kebaya bisa hilang dari keseharian kita,” ujarnya.

Siang itu, di bawah cahaya lampu yang lembut, kebaya dan sinjang Tasikmalaya tidak hanya hidup di tubuh para peserta. 

BACA JUGA:Dari Proklamasi Emansipasi Lincoln hingga Pemberontakan DI/TII Aceh

Ia juga hadir dalam kesadaran kolektif bahwa busana tradisi ini adalah identitas yang harus dirawat.

Kategori :