Caranya dengan menghadirkan kredit khusus untuk UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah).
Pendekatannya dilakukan dari dua sisi. Pasokan dan permintaan.
Dari sisi pasokan, pengembang, kontraktor hingga pedagang bahan bangunan skala UMKM bisa mengakses pinjaman hingga Rp 5 miliar.
Pemerintah akan memberikan subsidi bunga KUR sebesar 5% per tahun.
BACA JUGA: TMC Eternal Home Hadir di Kota Tasikmalaya, Wujud Toleransi dalam Pelayanan Akhir
Dari sisi permintaan, UMKM akan mendapat akses pembiayaan murah. Fasilitas ini khusus UMKM yang ingin membeli, membangun atau merenovasi rumah untuk mendukung usaha.
Plafon pinjaman disiapkan hingga Rp 500 juta. Bunga sama: berjenjang antara 6% sampai 9% per tahun. Tenor maksimal lima tahun.
Airlangga menekankan sektor perumahan memiliki dampak ekonomi yang besar.
Setiap rupiah yang digelontorkan ke sektor ini bisa menghasilkan output ekonomi senilai Rp1,74.
BACA JUGA: Duet Jordi Amat - Rizky Ridho, Tembok Baru Pertahanan Persija Jakarta?
Selain itu, sektor ini juga berpotensi menyerap hingga 13,8 juta tenaga kerja per tahun.
Untuk mendukung dua terobosan besar ini, pemerintah menambah plafon KUR tahun 2025 sebesar Rp 117 triliun.
Subsidi Bunga KUR Ditambah
Penambahan plafon tersebut juga disertai dengan tambahan anggaran subsidi bunga alias marjin KUR sebesar Rp 1,2 triliun.
BACA JUGA: Buruan! Klaim Saldo DANA Kaget Hari Ini Langsung Cair ke Dompet Kalian
Dengan langkah ini, pemerintah berharap ketahanan pangan dan sektor perumahan bisa tumbuh secara beriringan, membuka peluang lebih luas bagi pelaku usaha kecil dan menengah di Indonesia.