Radi, salah satu pengunjung dari Bandung, rela menempuh perjalanan jauh demi ikut merasakan atmosfer sakral Ngabumi.
“Saya suka hadir di acara budaya. Di sini meriah sekali. Tadi sempat rebutan hasil bumi, alhamdulillah dapat banyak,” ucapnya sembari tersenyum.
Sementara itu, Muhammad Ali Fauzi, warga asal Fakfak, Papua, datang bersama keluarga.
Baginya, Ngabumi adalah pengalaman baru yang menggugah.
BACA JUGA:Tayangkan Konten Asusila, Dua Situs Livestreaming Pasutri Pangandaran Diusulkan Diblokir
“Di Papua kami punya tradisi bakar batu, tapi tak semeriah ini. Di sini ada kirab, ada tarian budaya, sangat menarik. Tidak ada jarak antara pejabat dan warga. Semua guyub,” katanya.
Ali mengaku sudah dua bulan tinggal di Tanah Sunda, mengikuti berbagai kegiatan budaya di berbagai daerah, termasuk undangan ke Gunung Galunggung, Tasikmalaya.
Ia pun menyampaikan pesan menyentuh.
"Jaga budaya kita. Jangan seperti di tempat saya yang sering ribut. Budaya itu perekat bangsa," ujarnya lirih.
BACA JUGA:Susi Air Resmi Layani Penerbangan Bandung-Yogyakarta, KDM Optimistis Bandara Husein Kembali Hidup
Ngabumi di Pulo Majeti menjadi pengingat bahwa budaya bukan hanya warisan, tapi juga identitas dan jati diri.
Ia mengajarkan makna syukur, gotong royong, dan hidup selaras dengan alam.