Pencarian Korban Longsor Salawu Tasikmalaya Masih Terkendala Cuaca dan Medan

Rabu 02-07-2025,18:05 WIB
Reporter : Ujang Nandar
Editor : Rezza Rizaldi

Selain itu, waktu pencarian pun dibatasi hanya sekitar tujuh jam per hari, tergantung kondisi cuaca.

Mitigasi Jangka Panjang Jadi Prioritas

Dalam kesempatan itu, Bupati juga menekankan pentingnya upaya mitigasi bencana di daerah rawan longsor seperti Salawu. 

Ia menyebut kawasan tersebut seharusnya difungsikan sebagai daerah resapan air dengan penanaman pohon berakar kuat.

BACA JUGA:Layak Dinantikan Samsung Rilis HP Terbaru dan Galaxy Watch Terbaru 9 Juli 2025

“Wilayah ini sebenarnya daerah resapan. Harus ditanami tanaman berakar kuat agar bisa memperkuat struktur tanah. Banyak daerah di Tasik yang juga harus diperhatikan seperti ini,” katanya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk mulai mempertimbangkan komoditas pertanian yang lebih cocok dengan kondisi geografis perbukitan, seperti aren, kemiri, pala, dan kopi.

“Petani di Salawu sebaiknya mulai beralih dari padi ke tanaman seperti kopi, kemiri, atau aren. Itu lebih cocok untuk tanah berbukit,” sarannya.

Tower SUTET Dekat Titik Retakan

BACA JUGA:DKKT dan Dewan Kebudayaan Berpotensi Tumpang Tindih, Pemkot Tasikmalaya Harus Tegas Tentukan Arah

Cecep juga menyampaikan keprihatinannya atas keberadaan tower Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) yang hanya berjarak sekitar 22 meter dari titik retakan tanah. 

Ia menegaskan akan segera berkoordinasi dengan PLN untuk mengantisipasi potensi bahaya.

“Basarnas menyampaikan jaraknya hanya 22 meter dari retakan. Ini harus segera diantisipasi, dan hari ini juga saya akan koordinasi langsung dengan pihak PLN,” tegasnya.

Tim SAR Hadapi Kendala Berat

BACA JUGA:Tiga Pejabat BBPJN Sumut Dinonaktifkan Usai OTT KPK, Kementerian PU Lakukan Evaluasi Total

Sementara itu, Ketua Forum Koordinasi Taruna Siaga Bencana (FK Tagana) Kabupaten Tasikmalaya, Jembar Adisetya, mengatakan hingga hari keempat pencarian, korban masih belum ditemukan. 

Kategori :

Terpopuler