Kita akan kehilangan banyak 'ikan besar' jika kasus pembunuhan brigadir J gagal diungkap diawal. melihat drama persidangan kemarin, sampai hakim dan jaksa geram dengan keterangan art Susi. memang dari potongan detail kamera yg mengarah ke wajah Susi saat bersaksi ekspresi Susi seperti 'menganga' seperti sedang mendengarkan intruksi saat otaknya mencoba memperosesnya saat itu. maka saat jaksa mengatakan apakah Susi memakai 'handsfree' juga pertanyaan dasar yang ternyata tidak bisa dijawab lugas dengan Susi. maka hakim dan jaksa menilai, Susi memang harus dipisahkan dengan saksi-saksi lain, agar dikonfrontasi keterangannya dengan saksi-saksi lain. keputusan disidang kemarin para saksi bersaksi sendiri-sendiri lebih baik, karena memutus komunikasi mereka jika 'bersekongkol dalam keterangan' dan Susi bisa saja menjadi saksi yg menguntungkan nantinya 'jika benar kesaksian ia dipersidangan bohong' melihat kubu Sambo benar-benar seperti ingin membuat mereka tidak bersalah begitu kuat. untungnya sisi psikologis dipersidangan, hakim dan jaksa yg berbicara dengan lugas dan to the point membuat saksi bisa saja 'buyar' dalam mekanisme yg sebelumnya mereka coba susun.
Sama Konomaharu
Waktunya memotong, dan mencabik-cabik anggaran kepolisian sampai 30% untuk memberantas narco boy, dan terorisme. Adapun anggaran harus di serahkan ke ustad dan kyiai baik dari NU maupun Muhammadiyah. Di mana kedua ormas ini terbukti mampu membersihkan gejolak kekocakan antara sayap kanan, dan sayap kiri.
Johan
Jadi ingat, teman saya orang Bali yang begitu emosional ketika menonton berita penyambutan jenazah para bomber setelah di eksekusi. Jenazah disambut bak pahlawan. Saat itu pas lagi makan siang. Piring dan gelas dibantingnya sampai hancur berantakan. Kami yang duduk bersamanya hanya bisa diam. Tidak ada satu katapun yang bisa kami ucapkan. Perasaan malu, miris, geram bercampur aduk jadi satu.
*) Dari komentar pembaca http://disway.id