Dinkes Bali: Pasien Tidak Tertular Omicron di Bali

Selasa 04-01-2022,17:10 WIB
Reporter : tiko

Radartasik.com — Kabar tentang dua warga Surabaya yang terpapar Covid-19 varian Omicron sepulang dari Bali, langsung direspons oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemprov Bali. Mereka melakukan penelusuran untuk melacak jejak varian baru tersebut. Hasilnya, dua warga Surabaya itu diduga tertular Omicron dari tempat lain. Bukan saat berlibur di Bali.

Penegasan tersebut disampaikan Kepala Dinkes Provinsi Bali dr Ketut Suarjaya kepada Bali Express kemarin. Dia menjelaskan, warga Surabaya yang terpapar Omicron itu memang benar sempat berkunjung ke Bali untuk berlibur. 

''Namun, dari update data per Senin (3/1) pukul 12.00, berdasar catatan dari hotel tempat mereka menginap, warga Surabaya tersebut menginap tanggal 11—15 Desember, bukan 20—25 Desember seperti yang diberitakan,” jelasnya.

Artinya, menurut dr Suarjaya, pasien tersebut meninggalkan Bali sejak 15 Desember. Dengan demikian, ada jarak yang cukup panjang antara si pasien berlibur ke Bali dengan si pasien mengalami sakit dan dinyatakan positif Covid-19 varian Omicron.

Dokter Suarjaya menyatakan, kemungkinan masa inkubasi Omicron terjadi di luar Bali. ''Jika dilihat dari masa inkubasinya, yakni 3—10 hari, maka kemungkinan pasien terpapar di luar Bali,'' terangnya.

Hal itu juga mengacu pada perhitungan klinis. ''Hasil pemeriksaan keluar pada tanggal 2 Januari. Jika ditarik mundur 10 hari, kemungkinan pasien terpapar tanggal 24 Desember. Sedangkan pasien sudah meninggalkan Bali per tanggal 15 Desember,” urainya.

Berdasar perhitungan itu, dia yakin pasien tersebut tidak tertular Omicron di Bali. Pasien itu juga tidak meninggalkan virus Omicron di Bali. ''Karena tanggal 15 Desember mereka sudah pergi dari Bali,” tegasnya.

Sebagaimana diberitakan, kasus Covid-19 varian Omicron terdeteksi di Jawa Timur. Hal itu didasarkan pada hasil whole genome sequencing (WGS) oleh Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga (Unair) yang keluar pada Minggu (2/1) dini hari.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta warga Surabaya tidak panik dengan ditemukannya transmisi lokal varian Omicron. Dia mengimbau masyarakat untuk tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan (prokes). ''Ojo los-losan. Kalau los-losan, kejadian varian Delta bisa terulang,'' ujar Eri.

Dia optimistis bisa melewati kondisi ini. Pihaknya berupaya keras agar penularan varian Omicron tidak meluas. Selain melakukan blocking area di tempat pasien, pihaknya melacak riwayat kontak erat ke warga sekitar. ''Yang penting, jangan panik agar imun naik,'' tegasnya.

Pakar epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Dr Windhu Purnomo menyampaikan, penanganan Omicron tidak jauh berbeda dengan varian lain Covid-19. Itu karena cara penularannya yang sama. Bila seseorang tanpa gejala atau gejala ringan, cukup dengan diisolasi secara terpusat. Dengan begitu, potensi penularan minim. 

Tapi, bila bergejala sedang, berat, apalagi dalam kondisi kritis, yang bersangkutan harus dirawat di rumah sakit rujukan dengan penanganan standar Covid-19. ''Jadi, apa yang dilakukan Pemkot Surabaya dan rumah sakit sudah tepat,'' kata Dr Windhu.

Pihaknya berpesan kepada pengelola area publik agar mengimplementasikan aplikasi PeduliLindungi secara tepat. Jangan sampai penggunaan platform itu hanya sebagai formalitas. Aplikasi tersebut sangat penting untuk fungsi skrining ketika masyarakat beraktivitas di luar rumah. (jpg)
Tags :
Kategori :

Terkait