Radartasik, BANJAR – Rumah pemeriksaan kesehatan hewan di perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah sepi dari aktivitas pascapenutupan lalu lintas hewan. Bahkan sepekan terakhir, tidak ada hewan sapi maupun kambing yang diperiksa kesehatannya di tempat tersebut.
“Sudah sepekan tidak ada aktivitas lalu lintas hewan karena dari Jawa Timur-nya juga sedang disetop untuk pengiriman hewan ternak, baik sapi maupun kambing ke Provinsi Jawa Barat,” ujar Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Peternakan Kota Banjar Agus Kostaman, Kamis (19/5/2022).
Menurut dia, setiap ada aktivitas lalu lintas hewan ternak harus melakukan pemeriksaan di rumah pemeriksaan kesehatan hewan (check point). Selain diperiksa kesehatannya, juga diperiksa kelengkapan administrasi mobilisasi hewan ternaknya.
Agus menjelaskan, di Kota Banjar ada sekitar 30 ekor sapi dan 13 ekor kambing yang diindikasi terkena penyakit mulut dan kuku (PMK). Hewan ternak sapi sendiri semua berasal dari Jawa Timur untuk kebutuhan setok daging di Kota Banjar.
“Sudah ada 11 sapi positif, namun ada indikasi lain sapi yang masih dalam satu kandang peternakan menjadi total 30 ekor. Empat di antaranya sudah sembuh dan empat lainnya dipotong paksa karena kondisinya sudah memburuk,”katanya.
Meski terkena penyakit mulut dan kuku, daging sapi yang disembelih tidak berbahaya dikonsumsi manusia. Lantaran penyakit itu tidak akan menular ke manusia.
“Kecuali bagian kepala, kaki dan jeroannya. Itu harus dibuang dan jangan dikonsumsi,” katanya.
Pihaknya sudah melakukan edukasi kepada para peternak sapi, kambing serta domba atas ciri-ciri penyakit PMK yang menyerang hewan ternak. “Kami memberitahukan ciri-cirinya, seperti panas tinggi yang terjadi sekitar 39 derajat celsius hingga 41 derajat celsius, lalu keluar air liur secara berlebih (hipersalivasi), air liur terlihat menggantung dan air liur terlihat berbusa,” ujarnya.
Selain itu, ciri lainnya ialah kepincangan yang akut, luka pada mulut, lidah, lubang hidung. “Ada pula gejala klinis seperti, hewan ternak lebih sering berbaring, terjadi pembengkakan pada kelenjar submandibular serta penurunan produksi susu secara drastis pada sapi perah,” ucapnya. (cep)