radartasik.com, TASIK — Menjelang Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT), keharusan vaksin hanya berlaku untuk tenaga pendidik saja. Siswa boleh mengikuti pembelajaran tanpa harus mendapat suntikan atau sertifikat vaksin.
Dari informasi yang dihimpun Radar, sebagian orang tua siswa beranggapan siswa harus divaksin agar bisa ikut PTMT. Hal itu sejurus dengan vaksinasi anak yang saat ini digencarkan oleh Satgas Penanganan Covid-19 Kota Tasikmalaya.
Terlebih lagi, kata dia, vaksinasi untuk usia anak atau pelajar masih baru digulirkan. Sehingga ketersediaannya dikhawatirkan belum bisa mengakomodir semua siswa. “Program vaksin untuk anak kan baru dimulai,” terangnya.
Namun demikian, sambung BuAdiaman, bukan berarti anak usia 12 taAhun ke atas harus menghindari vakAsinasi. Jika memang ada kesempatan, pemerintah tetap menganjurkannya demi penanganan Covid-19.
Terkait teknis persiapan PTMT sendiri, hingga kini pihak sekolah masih menunggu petunjuk teknis dari Dinas Pendidikan. Sebab perlu kinerja ekstra cepat agar PTMT segera terlaksana.
Seperti halnya Kepala SDN 4 Pengadilan Bangbang Hermana yang bersyukur PTM segera dilaksanakan. Ini sebuah hal yang ditunggu-tunggu baik oleh guru yang sudah rindu bertemu langsung dengan siswanya. “Alhamdulillah, kami bersyukur bisa kembali tatap muka dengan siswa,” ujarnya.
Sejauh ini, pihaknya sudah menyiapkan keperluan protokol kesehatan di lingkungan sekolah. Di antaranya menyediakan tempat cuci tangan dan menata ruang kelas untuk diisi 50 persen dari kapasitasnya. “Termasuk alat pemeriksaan suhu dan handsanitizer,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga merasa harus meminta persetujuan yang baru kepada para orang tua siswa. Supaya bisa memastikan mana siswa yang bisa belajar di sekolah dan mana yang tetap daring. “Senin sepertinya lumayan berat untuk bisa selesai,” ujarnya.
PJJ Turunkan Kecerdasan Siswa
Pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang selama pandemi Covid-19 diterapkan ternyata mempengaruhi emosi siswa yang bredampak pada penuruan kecerdasan. Sayangnya Pemerintah belum memiliki solusi yang tepat.
Muhammad Nur Rizal, Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) menyebut berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pihaknya, PJJ dapat mempengaruhi emosi siswa. Dan umumnya emosi negatif.
”Hasil penelitian yang kami lakukan pada 1.263 siswa mulai jenjang SD hingga SMA, menunjukkan 57 persen siswa SD dan SMP merasakan emosi negatif. Sementara 70 persen siswa SMA yang merasakan emosi negatif,” ujarnya dalam keterangannya, Rabu (11/8/2021).
”Ini menunjukkan ada proses belajar, strategi belajar atau kurikulum yang ternyata mungkin tidak tepat atau tidak dibutuhkan siswa. Selain tidak sesuai dengan perkembangan mental siswa itu sendiri,” terangnya.
Kategori :