Begini Suasana Ramadan pada Masa Hindia Belanda, dari Dentuman Meriam hingga Puasa di Atas Kapal

Begini Suasana Ramadan pada Masa Hindia Belanda, dari Dentuman Meriam hingga Puasa di Atas Kapal

Suasana menjelang Ramadan di era kolonial belanda.-Istimewa -

RADARTASIK.COM - Pernahkah Anda membayangkan bagaimana syahdunya detak jantung masyarakat saat menyambut datangnya hilal Ramadan pada masa hindia belanda yang penuh dengan tradisi unik sekaligus tantangan kolonial?

Meskipun berada di bawah kendali pemerintah kolonial pasca-bubarnya VOC, umat Islam di Nusantara kala itu tetap memiliki gairah spiritual yang luar biasa dalam menyambut bulan suci Ramadan. 

Catatan sejarah dari para pengamat Belanda bahkan seringkali menggunakan istilah "poeasa" untuk menggambarkan fenomena religius yang dianggap sangat penting bagi penduduk muslim pribumi tersebut.

Salah satu momen yang paling krusial adalah ketika ketegangan muncul di meja diskusi terkait penetapan awal satu Ramadan yang kerap memicu perdebatan hangat.

BACA JUGA:Berapa Usia Ideal Anak Mulai Puasa Ramadan? Ini Panduan Lengkap yang Perlu Orang Tua Pahami

Jika saat ini kita mengenal Sidang Isbat dari Kementerian Agama, maka pada zaman dulu otoritas tersebut berada di tangan Perhimpoenan Penghoeloe dan Pegawainya atau yang dikenal sebagai Hoofdbestuur.

Lembaga inilah yang bertanggung jawab menentukan kapan persisnya umat Islam harus mulai berpuasa dan kapan gema takbir Idul Fitri boleh dikumandangkan.

Beranjak dari urusan administratif, kegembiraan masyarakat kelas bawah justru meledak melalui bunyi-bunyian yang menggelegar di seluruh pelosok desa.

Suasana menjelang Ramadan yang semarak ditandai dengan dentuman meriam yang saat itu masih tersebar luas di berbagai wilayah strategis sebagai penanda waktu.

BACA JUGA:Tips Berbuka Puasa Yang Aman dan Nyaman bagi Penderita Diabetes agar Gula Darah Tetap Stabil Selama Ramadan

Tak hanya meriam, masyarakat dari berbagai kalangan usia juga menyalakan petasan dan mercon sebagai simbol kemenangan moral atas penantian panjang mereka.

Kemeriahan ini bukan sekadar kebisingan, melainkan bentuk antusiasme kolektif dalam menyambut bulan yang membawa keberkahan berlipat ganda.

Namun, di balik hiruk-pikuk daratan, ada perjuangan lain yang jauh lebih mengharukan dan penuh risiko di tengah samudra yang luas.

Bayangkan saja, banyak umat Islam yang harus melewatkan awal puasa mereka di atas dek kapal kayu yang terombang-ambing oleh ombak besar.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait